Liputan6.com, Jakarta – Perum Bulog mengungkapkan bahwa stok daging sapi yang disimpan tidak terlalu banyak. Namun, perusahaan yang berada di bawah naungan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini belum akan menambah impor daging sapi. 

Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menjelaskan, stok daging yang dimiliki Bulog untuk menghadapi Lebaran dan setelahnya hanya 32 ton. “Tentu ini sudah sangat mepet. Tetapi apa kami mau impor sapi atau beli lokal? Sementara belum,” kata Djarot saat berbincang dengan wartawan seperti ditulis, Sabtu (17/6/2017).

Bulog tengah melakukan penjajakan dengan beberapa negara untuk mendapatkan pasokan daging sapi dengan harga yang lebih murah. Tidak hanya dari Australia, beberapa negara seperti Spanyol dan Brasil menjadi salah satu pilihan.

Untuk mengantisipasi kekurangan daging sapi, Bulog mengaku akan menambah dengan barang substitusi, yaitu dengan meningkatkan pasokan daging kerbau. Hal ini dinilai ampuh untuk menggantikan kebutuhan daging sapi bagi masyarakat.

Saat ini, Bulog memiliki jumlah stok daging kerbau sebanyak 30 ribu ton. Jumlah ini dianggap cukup aman untuk menghadapi Lebaran nantinya. ‎”Kalau terjadi kebutuhan luar biasa selama Ramadan, tentu bukan hal yang mengkhawatirkan. Kebutuhannya (Lebaran) itu 7-9 ribu ton,” tegas Djarot.

Untuk menambah pasokan, Bulog kembali akan mendatangkan daging kerbau dari India setelah Lebaran. Jumlahnya sebesar 5.000 ton. Jumlah ini merupakan bagian dari 51 ribu ton rencana importasi yang dilakukan oleh Bulog.

“Datangnya nanti setelah Lebaran, awal Juli, sepuluh hari setelah Lebaran. Karena saya yakin sampai seminggu Lebaran masih aman,” tutupnya.

Harga 

Sebelumnya pada 16 Juni 2017, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan jelang Lebaran harga daging sapi segar di pasar tradisional cenderung stabil atau bahkan turun. Padahal, pada periode yang sama tahun-tahun sebelumnya, harga komoditas tersebut selalu naik.

Daging sapi merupakan salah satu komoditas pangan yang mudah bergejolak. Namun, jelang Lebaran tahun ini, harga komoditas tersebut cenderung stabil, bahkan turun di beberapa daerah.

“Jadi kalau tadi kita lihat, harga yang paling volatile adalah daging sapi. Dari pengalaman kita beberapa tahun lalu, daging itu naiknya tajam sekali,” ujar dia.

Enggar mencontohkan, di Pasar Kranggot, Cilegon, Banten, saat ini daging sapi terpantau berada pada kisaran harga Rp 105 ribu per kg. Padahal, selama ini harga daging tersebut dijual antara Rp 110 ribu-Rp 120 ribu.

“Di Pasar Kranggot Rp 105 ribu, itu daging lokal daging segar. Yang kisaran Rp 110 ribu sampai Rp 120 ribu, bahkan pernah naik sampai Rp 160 ribu kemudian turun. Jadi, ada penurunan harga,” kata dia.

Tonton Video Menarik Berikut Ini:

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan